Biblia Todo Logo
Alkitab Daring
- Iklan -




Pengkhotbah 2:16 - Alkitab dalam Bahasa Indonesia Masa Kini

16 Orang yang bodoh akan segera dilupakan, tetapi orang yang mempunyai hikmat pun tak akan dikenang. Lambat laun kita semua akan hilang dari ingatan. Kita semua harus mati, baik orang yang arif maupun orang yang dungu.

Lihat babnya Menyalin

Alkitab Terjemahan Baru

16 Karena tidak ada kenang-kenangan yang kekal baik dari orang yang berhikmat, maupun dari orang yang bodoh, sebab pada hari-hari yang akan datang kesemuanya sudah lama dilupakan. Dan, ah, orang yang berhikmat mati juga seperti orang yang bodoh!

Lihat babnya Menyalin

Terjemahan Sederhana Indonesia

16 Karena sebagaimana orang bebal akan mati, begitu pula orang bijak akan mati! Dua-duanya tidak akan dikenang lama. Dan di masa yang akan datang, mereka sama sekali dilupakan.

Lihat babnya Menyalin

Alkitab Terjemahan Lama

16 Karena peringatan akan orang alim dan akan orang bebal itu sama, tiada kekal adanya, maka barang yang ada sekarang sekaliannya itu akan terlupa pada hari yang datang; demikianlah mati orang alim itu sama dengan orang bodoh.

Lihat babnya Menyalin




Pengkhotbah 2:16
17 Referensi Silang  

Setelah itu Daud meratap untuk Abner, katanya, “Haruskah Abner mati sebagai orang dungu?


bila ditiup angin, lenyaplah ia, malah tempatnya tidak diketahui lagi.


agar ia terhindar dari mati dan dapat hidup selamanya.


Apakah kasih-Mu diberitakan dalam kuburan, dan kesetiaan-Mu di tempat kebinasaan?


Beberapa waktu kemudian Yusuf dan saudara-saudaranya meninggal, begitu juga orang-orang yang seangkatan dengan dia.


Kemudian seorang raja baru yang tidak mengenal Yusuf mulai memerintah di Mesir.


Orang bijaksana tahu bagaimana harus bertindak, orang bodoh tertipu oleh kebodohannya.


Orang tak akan ingat kejadian di masa lalu. Begitu pun kejadian sekarang dan nanti, tidak akan dikenang oleh orang di masa mendatang.


Orang arif dapat melihat arah yang ditujunya; orang bodoh seperti berjalan meraba-raba.” Tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama akan menimpa mereka semua.


Maka pikirku, “Nasib yang menimpa orang bodoh akan kualami juga. Jadi, apa gunanya segala hikmatku?” Lalu kuambil kesimpulan bahwa hikmat itu memang tak ada gunanya sama sekali.


Jadi, apa keuntungan orang arif dibandingkan dengan orang bodoh? Apa pula gunanya jika orang miskin berkelakuan baik di tengah-tengah masyarakat?


Lebih baik pergi ke rumah duka daripada ke tempat pesta. Sebab kita harus selalu mengenang bahwa maut menunggu setiap orang.


Pernah kulihat orang jahat mati dan dikuburkan. Tetapi waktu orang-orang pulang dari penguburannya, mereka memuji dia di kota tempat ia melakukan kejahatan. Jadi, itu pun sia-sia.


Di kota itu ada seorang miskin yang bijaksana. Ia dapat menyelamatkan kota itu. Tetapi karena ia miskin, jasanya segera dilupakan dan tak seorang pun ingat kepadanya.


Setidaknya, orang hidup tahu bahwa ajal menantinya, sedangkan orang mati tidak tahu apa-apa. Baginya tidak ada upah atau imbalan, dan namanya sudah dilupakan.


Lalu orang-orang yang takut kepada Tuhan berbicara satu sama lain. Tuhan mendengar dan memperhatikan apa yang mereka katakan. Orang-orang yang menghormati Dia dan takut kepada-Nya, ditulis namanya dalam sebuah buku catatan yang ada di hadapan-Nya.


Allah sudah menetapkan bahwa manusia mati satu kali saja dan setelah itu diadili oleh Allah.


Ikuti kami:

Iklan


Iklan