Biblia Todo Logo
Alkitab Daring
- Iklan -




Nehemia 2:3 - Alkitab dalam Bahasa Indonesia Masa Kini

3 lalu menjawab, “Hiduplah Baginda untuk selama-lamanya! Bagaimana hamba tidak sedih, kalau kota tempat kuburan nenek moyang hamba sekarang tinggal puing-puing belaka dan pintu-pintu gerbangnya telah hancur dimakan api.”

Lihat babnya Menyalin

Alkitab Terjemahan Baru

3 Jawabku kepada raja: ”Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?”

Lihat babnya Menyalin

Terjemahan Sederhana Indonesia

3 tetapi saya menjawab, “Semoga Tuanku Raja hidup selamanya! Bagaimana saya tidak sedih, Tuan, bila keadaan kota Yerusalem, tanah air kami, tempat nenek moyang saya dikuburkan, sudah menjadi reruntuhan dan gerbangnya hancur terbakar.”

Lihat babnya Menyalin

Alkitab Terjemahan Lama

3 Maka sembahku kepada baginda: Daulat tuanku sampai selama-lamanya! Bagaimana gerangan tiada suram muka patik, sedang negeri, tempat pekuburan nenek moyang patik, sudah rusak dan segala pintu gerbangnyapun sudah habis dimakan api?

Lihat babnya Menyalin




Nehemia 2:3
21 Referensi Silang  

Maka sujudlah Batsyeba sambil berkata, “Hiduplah Paduka Raja untuk selama-lamanya!”


Pada tanggal tujuh bulan lima dalam tahun kesembilan belas pemerintah Nebukadnezar raja Babel, datanglah ke Yerusalem seorang yang bernama Nebuzaradan. Ia adalah penasihat dan panglima tentara Nebukadnezar.


Tidak seorang pun menyesali kematiannya. Ia dikuburkan di Kota Daud, tetapi tidak di dalam makam raja-raja. Ketika menjadi raja, Yehoram berumur 32 tahun, dan ia memerintah di Yerusalem 8 tahun lamanya.


Ahas meninggal; dan dikuburkan di Yerusalem, tetapi tidak di makam raja-raja. Hizkia putranya menjadi raja menggantikan dia.


Hizkia meninggal, lalu dimakamkan pada bagian tanjakan di tanah pekuburan raja-raja. Seluruh rakyat Yehuda dan Yerusalem memberikan penghormatan yang besar kepadanya pada waktu ia meninggal. Manasye putranya menjadi raja menggantikan dia.


Ia meruntuhkan tembok kota Yerusalem, dan membakar kota itu, termasuk Rumah Tuhan dan semua istana bersama barang-barang berharga yang masih ada di dalam istana-istana itu.


Mereka menceritakan bahwa orang-orang bekas buangan yang telah kembali ke tanah air itu, kini hidup sengsara dan dihina oleh bangsa-bangsa asing yang ada di sekitarnya. Lagipula, tembok-tembok kota Yerusalem masih hancur berantakan dan pintu-pintu gerbangnya belum diperbaiki sejak dibakar di waktu yang lampau.


Hari masih malam, ketika kami meninggalkan kota melalui Pintu Gerbang Lembah di sebelah barat. Kami menuju ke arah selatan, ke Pintu Gerbang Sampah, melalui Mata Air Naga. Dalam perjalanan itu aku memeriksa kerusakan-kerusakan pada tembok kota dan kulihat pula pintu-pintu gerbang yang telah habis dimakan api.


Bagaimana mungkin hamba tega melihat bangsa dan sanak saudara hamba habis dibantai?”


Engkau akan bangkit dan mengasihani Sion, saatnya sudah tiba untuk berbelaskasihan kepadanya.


Sebab hamba-hamba-Mu mencintai dia, biarpun ia sudah menjadi reruntuhan. Mereka merasa kasihan kepadanya, walaupun ia sudah menjadi debu.


Biarlah aku tak bisa lagi menyanyi jika aku melupakan engkau dan tidak menjadikan engkau kesukaanku!


Aku tertunduk dan terbungkuk, sepanjang hari aku murung dan sedih.


Pada tanggal sepuluh bulan lima dalam tahun kesembilan belas pemerintahan Nebukadnezar raja Babel, datanglah ke Yerusalem seorang yang bernama Nebuzaradan. Ia adalah penasihat dan kepala pengawal pribadi Nebukadnezar.


Gerbang-gerbangnya tertimbun tanah, semua palang-palangnya patah; raja dan pejabat pemerintah berada di pembuangan. Hukum Tuhan tidak lagi diajarkan; nabi tidak lagi menerima wahyu dari Tuhan.


Mereka menjawab dalam bahasa Aram, “Hiduplah Tuanku selama-lamanya! Ceritakanlah mimpi itu kepada kami, maka kami akan menerangkan artinya.”


Mereka berkata kepada Raja Nebukadnezar, “Hiduplah Tuanku selama-lamanya!


Mendengar teriakan-teriakan raja dan para pembesarnya, ibunda raja masuk ke dalam ruang pesta. Lalu ia berkata, “Hiduplah Tuanku selama-lamanya! Tenangkanlah hati Tuanku dan jangan menjadi pucat.


Sesampainya di sana, berserulah ia dengan suara cemas, “Daniel, hamba Allah yang hidup! Apakah Allahmu yang kausembah dengan setia itu telah sanggup menyelamatkan engkau dari singa-singa itu?”


Lalu mereka berkata, “Kita hanya dapat menemukan kesalahan Daniel dalam hal yang berhubungan dengan agamanya.”


kota-kotamu Kurobah menjadi puing-puing, tempat-tempat pemujaanmu Kuhancurkan dan kurban-kurbanmu tidak Kuterima.


Ikuti kami:

Iklan


Iklan